Tag

,

quark.jpg

Pengarang : Hans J. Wospakrik
Jumlah halaman : 324
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia & Penerbit Universitas Atma Jaya
Harga :Rp. 50.000


Buku multi-ilmu-eksakta yang disampaikan dengan ringan serta jernih. Pembaca seakan-akan diajak untuk menapaki perjalanan panjang pencarian kebenaran hakikat zat yang merupakan satu-satunya zat terkecil yang menyusun alam semesta. Penulis santun kelahiran 50-an Irian Jaya ini, menghindari pembahasan-pembahasan rumit dan pencantuman kalkulasi-kalkulasi kompleks untuk memberi rasa nyaman bagi pembacanya.

Bab awal dalam buku ini, memulainya dengan menceritakan keadaan ilmu pengetahuan sebelum munculnya para pemikir-pemikir Yunani purba. Dimana saat itu, ilmu pengetahuan ibarat dikebiri dan hanya dimanfaatkan untuk melanggengkan kekuasaan. Hingga muncul seorang filsuf yang menyulut obor pencarian tak berujung sebuah ilmu pengetahuan tentang hakikat zat yang telah menjadi saripati kehidupan ini. Dialah Thales, yang menganggap bahwa zat dasar itu adalah air.

Semangat sang Thales untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, ternyata membakar semangat filsuf-filsuf lainnya. Herakleitos, Empedokles, dan Anaksagoras pun tak mau ketinggalan mengikuti perlombaan tak berujung ini. Masing-masing menyempurnakan pandangan yang dibawa filsuf sebelumnya. hingga Demokritos yang mencetuskan teori Atomos, yang mengatakan bahwa zat penyusun alam semesta ini adalah zat mungil yang tidak tampak dan tidak bisa dibelah lagi.

Aristoteles yang sangat tersohor pun muncul ke permukaan. Namun dia menolak teori Atomos yang menurutnya sebuah khayalan mengawang belaka, Aristoteles lebih mendukung teori empat unsurnya Empedokles yang menganggap bahwa zat yang dimaksud adalah : tanah, air, udara, dan api. Karena kedudukan Aristoteles yang cukup disegani, maka teori atomos terkubur selama berabad-abad.

Walaupun pendapat Aristoteles terbukti kesalahannya saat ini, namun ternyata teori empat unsur ini melahirkan cabang ilmu pengetahuan baru, al-kimia. Obor ilmu pengetahuan ketika itu berpindah ke tangan para cerdik pandai Arab. Sehingga kita akan teringat banyak unsur kimia yang memiliki awalan nama ‘al-‘ seperti alkohol, alkana, alkali, dll adalah dari bahasa penemunya. Di tangan cendikiawan Arab ini, dikemukakan bahwa zat dasat penyusun alam semesta adalah tiga asas yang dilukiskan dalam “air raksa”, “belerang”, dan “garam”.

Obor ilmu pengetahuan kemudian berpindah ke Eropa Barat. Tempat dimana Boyle, Lavoiser, Dalton, Gay-Lussac, Avogadro mengembangkan ilmu kimia yang berasal dari bangsa Arab. Di abad inilah John Dalton berhasil membuktikan keberadaan zat mungil yang dimaksud oleh Demokritos, sehingga teori atomos yang telah terkubur berabad-abad itu kini hidup kembali. Di lain pihak pula lahirlah ilmu kelistrikan yang dimulai dengan ditemukannya batu ambar yang digosok ke bulu hewan sehingga memiliki kemampuan menarik benda-benda ringan didekatnya.William Gilbert, Charles F. du Fay, Benjamin Franklin, Charles A de Coulomb, Galvani, Volta, Georg Simon Ohm turut berpartisipasi dalam membangun fondasi ilmu kelistrikan.

Bab selanjutnya dijelaskan terjadinya perkawinan antara Listrik dan Kimia yang pada awalnya ditemukan secara tidak sengaja oleh biologiwan Italia, Luigi Galvani yang kemudian dilanjutkan oleh Alessandro Volta. Pada tempat yang lain pula, ditemukannya kaitan antara listrik dengan magnet yang ditemukan oleh fisikawan Denmark Hans Cristian Oerstedt. Kemudian dikembangkan oleh fisikawan Skotlandia, James Clerk Maxwell menjadi sebuah teori elektromagnet. Dengan teori ini hakikat cahaya terjelaskan dan kehadiran gelombang radio teramalkan. Hingga akhirnya dapat menjelaskan teori elektron.

Pencarian terus bergulir tanpa henti sampai sekarang. Hingga kita mengetahui bahwa zat terkecil itu adalah atom yang merupakan miniatur tata surya, zat yang katanya tidak bisa lagi dipecahkan. Namun ilmu pengetahun masih terus mengungkap kebenaran sebenarnya, hingga saat ini ilmu pengetahuan mengungkapkan bahwa zat termungil yang menyusun alam semesta ini adalah Quark.

Dimana Quark terbagi menjadi 3 : up (u), down (d), dan strage (s). Dengan masing-masing bermuatan (2/3), (-1/3), dan (-1/3)

Proton = 2 u + 1 d = 2 (2/3) + 1 (-1/3) = +1
Neutron = 1 u + 2 d = 1 (2/3) + 2 (-1/3) = 0

Bagi pecinta sains, buku ini mungkin menjadi menu sarapan pemahaman berbagai cabang ilmu. Namun karena keringanan bahasanya, saya mereferensikan juga untuk orang-orang awam seperti saya, sebab banyak hikmah yang bisa dipetik dari buku ini. Diantaranya :

  • Apa yang kita yakini kebenarannya saat ini, suatu saat mungkin akan dianggap salah.
  • Begitu pula sebaliknya, apa yang saat ini dianggap salah, bisa jadi suatu saat ditemukan kebenarannya.
  • ilmu pengetahuan tidak akan habis walaupun terus dikuras. Karena ia berasal dari Sang Pencipta yang Maha Sempurna, jadi mana mungkin ditandingi oleh otak-otak mungil manusia.
  • Orang yang panjang umur adalah orang yang telah mati namun nama dan jasanya masih hidup sampai saat ini.
  • Kesalahan bisa menjadi jalan menemukan kebenaran yang sesungguhnya
  • Kebenaran bisa saja disalahkan tetapi tidak bisa dikalahkan
  • dll, silahkan baca sendiri.