Bukan taqdir yang menentukan kemana arah kita, melainkan kitalah yang menentukan kemana taqdir kita. Sebelumnya saya mohon maaf, jika tulisan saya ini kurang berkenan bagi sebagian orang, dan mohon diluruskan jika memang jauh dari nilai-nilai kebenaran.

 

Apa hubungannya nasib dengan kalkulator?

calculator1.gif


Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin mengajak Anda mencoba menghitung beberapa operasi matematika dasar. Saran saya, siapkan kalkulator, atau buka program kalkulator di computer Anda (caranya : dari start menu, pilih program, pilih Accessories, pilih Calculator). Hal ini untuk memudahkan pemahaman terhadap apa yang saya sampaikan (bukan maksud menganggap remeh kemampuan matematis Anda). Siap yach…!

 

Berapakah 5+10+25+3+17+41?
Apa hasilnya 101?

 

Sekarang berapakah 5-2+10+2-25+29+13?
Apa hasilnya 22

 

Nah kalau 10+2-3-52-13?
Apa hasilnya -56?

 

Baiklah… sekarang kita akan menggunakan kalkulator. Tekanlah angka 5, kemudian tekan simbol tambah (+), tekan angka 1 lalu 0, lalu tekan simbol tambah (+), kemudian angka 2 lalu 5, dan seterusnya, sampai kita melakukan operasi bilangan : 5+10+25+3+17+41

 

Maaf… bukannya menganggap Anda belum mahir menggunakan kalkulator. Tapi hanya ingin memastikan bahwa kita mempunyai persepsi yang sama dalam menggunakannya. Baik…! Jika angka dan simbol-simbol yang ditekan pada kalkulator tersebut sudah sesuai dengan bilangan dan operasi matematika yang ingin dilakukan, maka saya berani menjamin angka yang ditunjukkan kalkulator adalah 101

Benar kan!

 

Sekarang bagaimana dengan soal yang kedua? Jika kita pun memasukkan angka dan operasi matematika yang benar sesuai soal kedua, maka pastilah kalkulator tersebut akan menunjukkan angka 22

Begitu pula dengan soal ketiga, pastilah kalkulator akan menampilkan angka -56.

Saudaraku…!
Hikmah apa yang bisa kita ambil dari simulasi ini?
Kalkulator tersebut sudah ada, jauh sebelum soal-soal tersebut saya buat.

Akan tetapi kalkulator sudah mengetahui jawabannya. MENGAPA…? Karena kalkulator sudah diprogram sedemikian rupa, sehingga ketika seseorang menekan tombol dan simbol-simbol tertentu, maka kalkulator memberikan hasil tertentu pula.

Saudaraku…!
Begitu pula dengan taqdir (nasib), sudah di program sedemikian rupa oleh sang Maha Pencipta, yang ditulis dalam kitab yang tersimpan di Lauhul Mahfudz, yang berisi seluruh nasib / taqdir semua makhluk dan benda-benda ciptaan Allah. Dalam kitab tersebut tercatat, seseorang mempunyai rizki seberapa besar, meninggal dalam keadaan bagaimana, menikah dengan siapa, sakit pada hari, jam, dan detik keberapa, bahkan mendapat musibah kapan. Semua informasi tersebut sudah ada dalam kitab tersebut. Bahkan informasi keadaan masa depan kita di akhirat kita kelak, apakah masuk surga atau neraka sudah tercatat lengkap dalam kitab tersebut.

Jika kita membaca tafsir atau terjemahan Al-Qur’an, banyak ayat yang menceritakan kejadian-kejadian yang akan datang (Future Tense), namun diceritakan dalam bentuk kalimat telah terjadi (Past Tense). Ini dikarenakan Allah telah mengetahui segalanya dari sejak permulaan hingga akhir kehidupan ini.

 

Tinta taqdir memang telah kering, catatan nasib sudah selesai, segala hal tentang kehidupan kita sudah diatur. Tapi ini bukan berarti taqdir atau nasib seseorang tidak bisa diubah, atau menjadikan kita pasrah begitu saja menerima taqdir yang Allah berikan. Hidup kita telah ditentukan (diprogram) oleh Allah, hasil akhirnya sudah ditentukan, tinggal kita akan MENEKAN TOMBOL APA

 

Kita harus berusaha mengubah nasib kita agar menjadi manusia yang lebih baik. Ibarat kita menekan tombol-tombol pada kalkulator. Jika kita menekan angka-angka dan simbol-simbol seperti soal nomor satu, maka hasilnya adalah 101, jika kita menekan angka-angka dan simbol-simbol seperti soal nomor dua, maka hasilnya adalah 22, pun jika kita menekan angka-angka dan simbol-simbol seperti soal nomor 3, maka akan menghasilkan -52.

Begitu pun dalam hidup ini. Penekanan angka dan simbol tersebut ibarat apa yang kita lakukan saat ini. Sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan, akan berpengaruh pada hasil akhir yang akan kita dapat. Hasil akhir itulah yang akhirnya kita sebut Taqdir / Nasib kita.

…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar-Rad,13 : 11)